Prodi Studi Agama-Agama Mengadakan Seminar Internasional pada tanggal 14 Agustus 2023.

Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Senin, 14 Agustus 2023. Seminar internasional dihadiri oleh bapak Dr. Isnaeni, M. A selaku dekan Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama, bapak Ahmad Muttaqin, M. Ag selaku Ketua Prodi Studi Agama-Agama, ibu Khoiriya Ulfah, M.A selaku sekretaris prodi Studi Agama-Agama, serta dosen-dosen.

Seminar internasional menghadirkan dua narasumber yakni Prof. Dr. Irina Katkova dari Rusia dan Prof. Dr. M. Afif Anshori, M. Ag dari Indonesia. Materi yang menjadi topik seminar ialah “Schools of Islamic Thought in Southeast Asia” yang membahas mengenai sekolah-sekolah yang menganut pemikiran Islam dikawasan Asia Tenggara.
Eksistensi Islam Di Asia Tenggara dimulai pada masa Islam masuk ke Asia Tenggara abad VII dimana abad itu menjadi awal tahapan pembentukan muslim yang terdiri dari pedagang. Ketika pada Abad XIII sampai abad XVI, pada masa itulah mulai tampak kerajaan bercorak Islam yang merupakan hasil dari penyebaran Islam. Pendidikan Islam di Negara Asia Tenggara memiliki ciri dan perbedaan masing-masing. Seperti di Indonesia, Dewasa ini, menurut Mastuki pendidikan Islam (al-tarbiyah al-islamiyah) telah berkembang dalam jenis dan ragam yang dapat dikategori dalam dua kelompok besar. Pertama, pendidikan Islam sebagai lembaga atau program.

Kategori kedua adalah pendidikan Islam sebagai spirit atau nilai-nilai yang melekat pada aktivitas pendidikan dan pembelajaran. Dalam pengertian ini, seluruh sistem pendidikan yang dikembangkan dari dan dijiwai oleh ajaran atau nilai-nilai Islam dapat dimaknai sebagai pendidikan Islam. Pendidikan Islam di Malaysia memiliki ciri yang dimana Masyarakat Muslim di Malaysia sebagian besar berlatar belakang pedesaan dan mayoritas mereka bekerja sebagai petani. Mereka cenderung dalam kehidupan komunitas masyarakat kampung.

Sistem Pendidikan Islam di Asia Tenggara tidak luput dari politik islam yang terjadi yang menghasilkan perkembangan terhadap ilmu pengetahuan Islam di Asia Tenggara. Setiap Negara di Asia Tenggara memiliki ciri dan perbedaan terhadap sistem Pendidikan yang diajarkan disetiap negara seperti yang telah dijelaskan diatas. Setiap sistem memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Namun para cendekiawan di Asia Tenggara memiliki karya besar sebagai intelektual dan pendakwah yang terjun ke tengah masyarakat. Mereka turut serta membentuk infrastruktur sosial keagamaan di tengah masyarakat. Mereka berhasil membuat pemahaman keagamaan kompatibel dengan isu-isu modernitas. Islam di Asia Tenggara memiliki ciri karakter tersendiri.
Kegiatan berlangsung dengan lancar dengan pemaparan yang baik serta sesekali terdapat beberapa interaksi berupa sesi tanya jawab dengan para peserta.